Connect with us

Anak

Selama Pandemi, Tantangan Anak Dalam Meraih Prestasi Meningkat

Dampak penurunan ekonomi selama masa pandemi berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.

Published

on

oleh : Fajar Restu Mulia

Tanah Datar – Dampak penurunan ekonomi selama masa pandemi berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Sebagai penilik pendidikan di Kabupaten Tanah Datar, Zulfahmi mengaku prihatin terhadap proses belajar anak karena tidak semua orang tua dapat memenuhi kebutuhan fasilitas belajar anaknya.

“Dalam proses belajar mengajar memerlukan sarana prasarana yang cukup, sebab hal ini mendukung tingkat prestasi anak” ujar Zulfahmi selaku penilik pendidikan di Kabupaten Tanah Datar (28/10). Zulfahmi juga menyampaikan bahwa bagi siswa siswi yang memiliki ekonomi lemah sangat berdampak terhadap prestasi mereka, hal ini dsebabkan karena fasilitas yang mendukung pembelajaran mereka tidak dapat terpenuhi.

Jaswita (guru) dan para siswa sedang melakukan pembelajaran tatap muka terbatas atau hybrid learning (28/10/2021) (Dokumentasi Dewi Surianti)

“Hampir keseluruhan anak mengalami penurunan prestasi belajar, tetapi hal ini lebih terlihat pada anak dengan ekonomi lemah,” ungkap Jaswita, salah satu guru di SDN 28 Rambatan. Jaswita menegaskan bahwa kebanyakan orang tua murid di sekolah tempat ia mengajar merupakan buruh tani sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk mengontrol dan melakukan pengawasan terhadap belajar anak. Bahkan ada orag tua yang tidak memiliki HP, sedangkan pembelajaran dilakukan secara daring bergantian atau hybrid learning.

Hal ini dirasakan sekali oleh salah satu wali murid bernama Guslaini yang bekerja sebagai penjual buah. “Sebelum pandemi ini anak saya biasanya mendapat peringkat kelima, tetapi sejak pembelajaran daring sekarang ini anak saya hanya mendapatkan peringkat kesebelas,” ujar Guslaini (29/10).

Guslaini mengaku penurunan prestasi anaknya terjadi karena kurangnya pengawasan dirinya sebagai orang tua dalam mengawasi proses belajar anak. Tetapi hal itu dikarenakan ia harus bekerja dari pagi hingga sore karena kesulitan ekonomi yang dialaminya.

“Kalau dari segi usaha atau upaya saya untuk mengatasi masalah prestasi anak, biasanya saya sesekali meluangkan waktu sekitar 2 jam atau 3 jam,” ungkap Guslaini. Waktu tersebut ia gunakan untuk melihat bagaimana proses belajar anak dan sesekali mengecek pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada anaknya. Guslaini juga sering memberikan dorongan dan semangat kepada anaknya untuk jangan mudah putus asa dan tetap semangat.

Sebelumnya para orang tua dengan ekonomi lemah juga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kuota internet anaknya, karena bantuan kuota dari sekolah baru didapatkan baru-baru ini. Mereka juga merasa kesulitan dalam membantu anaknya menyelesaikan tugas sehingga tugas yang dikerjakan anak hanya asal-asalan. Tidak hanya orang tua, para guru di sekolah juga mengalami kesulitan. “Salah satu kesulitan yang kami alami dari segi menarik kembali minat belajar anak,” ungkap Jaswita.

Menurut Jaswita hal ini disebabkan karena kebiasaan belajar daring dan kurangnya kontrol dan pengawasan terhadap anak. Anak-anak tersebut lebih banyak menggunakan HP mereka untuk bermain daripada fokus untuk belajar. Sehingga ketika dimulainya pembelajaran tatap muka terbatas sikap para siswa yang suka bermain-main terbawa hingga ke sekolah.

Sebagai pendidik ia berharap agar pandemi cepat berakhir. “Dengan begitu anak-anak kita dapat belajar seperti biasa, belajar penuh semangat sehingga anak-anak ini dapat mengejar kembali prestasinya atau mengejar ketertinggalan pendidikan yang mereka terima selama ini,” ungkap Jaswita.

Lalu bicara mengenai bantuan dari Dinas Pendidikan untuk anak dengan ekonomi lemah. Zulfahmi menyampaikan bahwa bantuan yang terealisasi yaitu bantuan BAZ (Bantuan Amil Zakat) untuk anak dengan ekonomi lemah yang didata melalui dinas pendidikan dan bantuan kuota untuk seluruh siswa.

Dari Dinas Pendidikan sendiri pun juga sudah menjalankan program untuk membantu anak-anak yang kekurangan fasilitas seperti HP dengan mengadakan program pembelajaran melalui media elektronik radio. Pembelajaran melalui radio dilakukan setiap hari melalui radio pemerintahan daerah. Hal ini diharapkan dapat membantu anak dengan ekonomi lemah untuk belajar lebih efektif dan pembelajaran lebih merata.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Anak

Selama Pandemi, Kreativitas Anak Usia Dini Alami Peningkatan

Tingkat kreativitas dan perkembangan individu anak usia dini cenderung meningkat selama pandemi Covid-19.

Published

on

By

Oleh: Rizki Mauladi

Bandung – Tingkat kreativitas dan perkembangan individu anak usia dini cenderung meningkat selama pandemi Covid-19. Pola pembelajaran di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan stimulasi dari orang tua ketika pandemi menjadi faktor utama dalam perkembangan anak sesuai dengan usianya.

Salah satu guru TK Ade Irma Suryani Bandung, Syara Aulia Hawa, mengatakan bahwa anak menjadi lebih kreatif ketika pembelajaran selama pandemi dilakukan. Meskipun adaptasi menjadi tantangan karena minimnya interaksi, anak dapat merasa senang dan tidak bosan ketika pembelajaran sedang berlangsung. Guru berusaha membuat bahan ajar dengan lebih inovatif dan menarik agar anak didik tidak mudah merasa bosan.

“Banyak membuat eksperimen, eksperimen tentang gunung meletus, terus eksperimen perubahan warna, eksperimen membuat pelangi, terus misalnya membuat gelang sendiri/meronce, dan lain-lain,” ucapnya saat dihubungi secara daring (29/8).

Syara menjelaskan bahwa anak didik mendapatkan tugas yang dapat memicu tumbuh kembang anak sesuai dengan enam aspek perkembangan anak usia dini. Enam aspek perkembangan anak usia dini itu adalah nilai agama dan moral, kognitif, sosial emosional, bahasa, seni, serta fisik motorik. Dengan bimbingan dan pengawasan dari orang tua atau walinya di rumah, anak dapat mengeksplorasi kreativitasnya dari tugas yang diberikan oleh guru.

“Misalnya, untuk nilai agama dan moral, anak diminta membantu orang tua untuk membersihkan rumah. Itu kan nilai moralnya adalah membantu,” tambah Syara.

Syara mengatakan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam proses pembelajaran selama pandemi. Jika dibandingkan dengan guru, orang tua menjadi sosok yang paling sering melakukan interaksi dan melihat anak secara langsung. Oleh karena itu, koordinasi antara guru dan orang tua perlu dibangun dengan baik agar perkembangan anak sesuai dengan enam aspek perkembangan anak usia dini.

Sejalan dengan Syara, salah satu guru TK Kasih Ibu Majalengka, Lingga Tirana, mengatakan bahwa selalu muncul pemikiran dan ide kreatif anak yang terkadang tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Meskipun begitu, dirinya tidak menampik bahwa ada beberapa anak yang kurang bersemangat untuk mengikuti proses pembelajaran.

“Ada beberapa anak juga yang karena terlalu sering libur, jadi pembelajaran itu kurang semangat. Jadi kita harus nyiasatinnya dengan pembelajaran yang tidak selalu membaca dan menulis, tapi ada tentang menggambar, mewarnai, melipat, menggunting, menempel, kolase, montase, kayak gitu,” jelas Lingga saat diwawancarai secara daring (29/10).

Ketika pandemi, kata Lingga, anak selalu membuat karya seni sebagai tugas dari guru dengan tema-tema tertentu. Anak-anak dapat berkreasi dalam membuat karya seni tersebut sesuai dengan keinginannya masing-masing. “Kita bakal buat mobil-mobilan menggunakan barang-barang bekas, berkreasi membuat topeng,” tambahnya.

Peningkatan kreativitas individu anak tentu tidak terlepas dari peran orang tua. Terdapat banyak penelitian yang menyebut bahwa orang tua mengambil peran penting dalam capaian prestasi anak. Penelitian yang dilakukan oleh St.Adrianti dan Bonita Mahmud tahun 2021 menunjukkan hasil yang sama. School from home yang dilakukan selama pandemi berdampak positif pada peningkatan kemampuan anak dalam berkreativitas.

Peningkatan kreativitas dan perkembangan anak usia dini selama pandemi menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 bukan penghalang yang berarti bagi anak. Dengan dukungan orang tua dan gurunya, anak dapat melakukan berbagai hal positif di tengah keterbatasan karena pandemi.

Continue Reading

Anak

Pentingnya Ilmu Parenting di Tengah Tantangan yang Makin Besar

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ilmu pengasuhan dan pendidikan anak pun berubah.

Published

on

By

Oleh : Anatasya Patricia Kilis

Parenting atau cara mengasuh dan mendidik anak semakin sering menjadi perbincangan publik, baik di ranah digital maupun percakapan lisan sehari-hari. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ilmu pengasuhan dan pendidikan anak pun berkembang, sehingga mendorong banyak orang untuk menyuarakan arti penting parenting.

Salah satunya Adelene, seorang ibu rumah tangga sekaligus content creator yang berdomisili di Jakarta. Berawal dari amatan kurangnya kedisiplinan anak yang sering ia lihat, Adelene lebih aktif bersuara tentang isu parenting.

“Saya melihat banyak anak zaman sekarang yang, menurut saya, sudah hampir tidak ada disiplinnya. Anak kecil bisa lebih galak dari orangtua atau pengasuh. Bahkan sepertinya orangtua diatur oleh bayi. Dari situ saya lihat bahwa perlu “sosok” yang menyuarakan pentingnya parenting yang benar. Kuncinya balanced discipline, tentang bagaimana kita sebagai orangtua disiplinkan anak tanpa mereka merasa terancam atau tidak dikasihi. Menurut saya, banyak orangtua muda yang tidak mengerti ini,” jelasnya dalam wawancara melalui direct message di Instagram (14/12).

Dalam instagramnya, ia menyajikan testimoni edukatif seputar parenting, bagaimana memenuhi kebutuhan fisik juga emosional anak, hingga menerapkan nilai-nilai yang baik untuk menjadi pegangan hidup serta mencapai potensial diri.

Akun Instagram Adelene

Sejak awal pendemi hingga saat ini, Adelene selalu membagikan pengalaman tantangan seputar parenting yang dialami hingga upayanya mengatasi hal tersebut dengan harapan dapat menginspirasi orangtua lainnya.

Menargetkan pasangan muda sebagai prioritas tujuannya, hal penting yang turut diangkat yakni bahwa tidak semua penerapan ilmu parenting dituntut sempurna. Menurutnya, konsistensi dan kerjasama pasangan merupakan hal yang sangat penting.

Sementara, Muhammad Faksi, seorang anak muda yang turut memberikan perhatiannya pada isu pengasuhan anak. Dalam platform di website,akun Instagram serta kanal Youtube Tuturmama.id, ia berbagi informasi tentang berbagai penelitian terkait parenting.

Media sosial Tuturmama.id

Berawal dari bisnis pemasaran produk anak yang kebanyakan berinteraksi pada segmen ibu, Muhammad Faksi tergerak ikut serta mengedukasi para orangtua tentang parenting.

“Berangkat dari memasarkan produk anak-anak, dari situlah muncul kesadaran akan turut bertanggungjawab menyadarkan para orangtua terkait hal-hal yang menyangkut parenting. Lalu ada keinginan untuk punya media sendiri yang sifatnya intens spesifik tentang parenting,” tuturnya dalam wawancara melalui WhatsApp (15/12).

Menunjukan edukasinya pada first mom yang dirasa sangat membutuhkan wawasan parenting, Muhammad Faksi menyajikan data hasil riset jurnal dalam bentuk tulisan hingga rubrikasi dengan fokus besar pada kesehatan mental anak.

Yang penting bukan soal kuantitas, melainkan kualitas bersama anak

Sementara itu, Ratih Zulhaqqi, seorang psikolog anak, mengungkapkan bahwa menemani anak dalam proses tumbuh kembangnya adalah tanggung jawab penting orangtua. Meski hadir sebagai orangtua, hal ini tak serta-merta berarti bahwa orang dewasa tersebut memiliki hak penuh terhadap kehidupan si buah hati.

Potret Ratih dalam sebuah event Playdate yang digelar oleh @kalcare X @morinagaplatinum (sumber : akun instagram @ratihzulhaqqi)

“Walaupun dia anak kita, anak itu punya hidupnya sendiri. Jadi orangtua ibarat sebagai fasilitator, mediator, supervisior yang membersamai anak agar mereka bisa punya kehidupan yang berkualitas, sehingga ke depannya dia menjadi orang dewasa yang punya banyak kualitas dan karakter positif,” jelas Ratih. 

Seiring perubahan zaman, pandangan terhadap fokus parenting turut berubah. Jikalau beberapa tahun silam, parenting kebanyakan diperhatikan soal kuantitas, seperti sebanyak apa waktu yang dihabiskan bersama anak, saat ini tantangannya lebih ke aspek kualitas.

Terlebih di waktu pandemi, ketika pekerjaan orangtua sampai dengan aktivitas belajar anak lebih banyak dikerjakan dari rumah, membawa waktu lebih banyak dihabiskan bersama, namun belum tentu kualitas membersamai anak dapat dicapai.

Ia mengungkapkan, selama pandemi, klien konsultasinya meningkat. Kasus paling banyak yang ditemukan dalam ruang konselingnya bersama para orangtua yaitu kekerasan mereka terhadap anaknya. Mulai dari kekerasan verbal maupun fisik. Peralihan situasi memberi pengaruh besar bagi penyesuaian orangtua pada anak.

“Lingkungan rumah yang harusnya jadi lingkungan paling aman buat anak, tapi selama pandemi ini justru jadi lingkungan yang tidak aman, karena kebanyakan anaknya diomelin bahkan banyak yang melakukan serangan secara fisik. Di masa pandemi kasus seperti itu cukup banyak saya temukan pada ruang konsultasi. Mencoba memahami adaptasi suasana keluarga pada pandemi, membawa saya pada pandangan, yang jadi masalah saat ini bukanlah time management, melainkan life management,” ungkap Ratih.

Edukasi Parenting dalam Digitalisasi

“Menurut saya, orangtua zaman sekarang adalah orangtua yang cukup melek secara teknologi, mau tidak mau. Karena kita hidup di dunia yang serba digital, namun digitalisasi jangan membuat kita jadi terlena, life is in your hand tapi tetap harus ada batasan,” imbuhnya.

Era digital memudahkan setiap orangtua membagikan, mengakses dan mendapatkan tip bahkan pengetahuan parenting berdasarkan pengalaman ataupun teori. Ratih pun merupakan salah satu yang membagikan edukasi terkait.

Akun Instagram Ratih Zulhaqqi

Perannya sebagai seorang ibu dan kesempatan memahami hal ini secara akademis membawanya turut membagikan pengalaman dan pengetahuan tersebut.

Namun, poin penting yang diimbau Ratih dengan kemudahan penerimaan informasi adalah  pemaknaan informasi yang diterima tiap orangtua, meninjau kembali apakah informasi yang diterima akan baik hasilnya jika diterapkan dalam membimbing anak.

“Menggunakan media sosial untuk memperkaya pengetahuan tentang parenting adalah hal yang baik, bagus banget, tapi harus benar-benar dimaknai dan dilihat aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, apakah sesuai dengan kemampuan dia. Kadang perlu inovasi dan penyesuaian khusus dalam penerapannya, karena tidak semua tipe pengasuhan bisa diterapkan ke semua anak, kita harus melihat talenta anak, kekurangan dan kelebihan dia,” ucapnya.

Parenting bukan tren

Menurut Ratih, masih banyak warga secara umum yang acuh terhadap pentingnya penerapan ilmu parenting.

“Banyak di ruang konseling yang menyampaikan bahwa ‘orangtua saya zaman dulu jauh lebih keras daripada saya ke anak saya, tapi buktinya sekarang saya baik-baik saja,’. Kalau secara fisik pasti sehat ya, tapi kita tidak tahu secara emosi hingga kepercayaan dirinya. Terkadang justru ada beberapa orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang membawa luka yang mungkin membuat emosinya tidak stabil, lalu menunjukan diri tidak sesuai kemampuan yang dia punya.Tapi ini tak berarti menilai pengasuhan pada zaman sebelumnya adalah salah, hanya saja zaman ke zaman pasti ada perubahan,” jelasnya.

Milestone, serangkaian tahapan atas masa tumbuh kembang anak, adalah acuan pola asuh yang akan membawa kita pada wawasan tugas perkembangan anak sesuai usianya, agar bimbingan yang kita berikan tidak melampaui kemampuan bagaimana seharusnya ia dituntun.

Milestone anak merupakan hal yang harus diperhatikan. Banyak orangtua yang melakukan dorongan pengasuhan berdasar pada pencapaian anak orang lain. Acapkali orangtua berupaya menerapkan ilmu parenting dengan mengejar gengsi tanpa memahami dasar motivasi.

Di samping itu, kesadaran terhadap kerjasama orangtua merupakan hal utama dalam upaya mencapai aktualisasi parenting.

“Di Indonesia masih sangat kental dengan anggapan bahwa yang melakukan pengasuhan hanya ibu, padahal sebenarnya ayah pun memiliki peran yang efeknya sangat besar. Melakukan pengasuhan memang tidak mudah, tapi selama bisa mempelajari dan membangun kerjasama bersama pasangan, ilmu parenting dapat terwujudkan dengan baik,” kata Ratih.

Continue Reading

Anak

Tantangan Tumbuh Kembang Anak di Bengkulu Selama Pandemi

yang juga menyerang anak membawa tantangan yang tidak mudah bagi banyak orangtua di Provinsi Bengkulu. Mereka bukan hanya memikrikan kesehatan fisik anak, tapi juga kesehatan mental dan tumbuh kembang anak.

Published

on

By

kembang anak di masa pandemi.(Foto/Dok Alpha)

Oleh: Alpha Sadri

Bengkulu – Covid-19 yang juga menyerang anak membawa tantangan yang tidak mudah bagi banyak orangtua di Provinsi Bengkulu. Mereka bukan hanya memikrikan kesehatan fisik anak, tapi juga kesehatan mental dan tumbuh kembang anak.

Sampai hari Sabtu (23/10/2021), tercatat total 23,086 warga Provinsi Bengkulu yang terkena Covid-19 https://covid19.bengkuluprov.go.id/Databengkulu/filepdf/443,

Meningkatnya jumlah anak-anak yang terpapar Covid-19 membuat orangtua harus semakin waspada. Orangtua diimbau tidak mengajak anaknya beraktivitas keluar rumah guna menghindari penularan. Namun, bagaimana dampaknya terhadap tumbuh kembang jika anak hanya beraktivitas di rumah saja?

Abul Khair, seorang spesialis dokter anak di Kota Bengkulu, mengatakan hanya berdiam di rumah memang akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Terutama pola perilaku anak, seperti rasa kecemasan juga meningkat.

“Melihat beberapa studi yang dilakukan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tentang tumbuh kembang anak, pandemi Covid-19 memang berdampak pada hal itu,, terutama pada perilaku anak dan kecemasan juga meningkat,” kata Abul Khoir (23/10/2021).

Masalah-masalah psikologis tersebut khususnya akan muncul pada anak usia prasekolah dan sekolah. Sebab, anak di usia tersebut memang sudah seharusnya mengenali lingkungan di luar rumah dan bermain dengan teman sebaya.

Menurut Asniar (35) selaku orang tua yang memiliki dua anak yang salah satunya bersekolah di SD Negeri 37 Kota Bengkulu, sering mengaja anak bermain di luar rumah menjadi upaya untuk menjaga kesehatan mental anak.

Ia menyadari, bermain dengan orang dewasa memang tidak bisa menggantikan pengalaman anak bermain bersama teman sebayanya.

Namun, hal ini setidaknya tetap bisa membantu tumbuh kembang anak.

“Stimulasi sebenarnya bisa diberikan di dalam rumah oleh kami selaku orangtua, orang dewasa lain, atau kakaknya, tapi sosialisasi dengan teman sebaya yang memang terkendala,” kata Asniar (24/10/2021)

Ia juga menilai, anak-anak bisa diajak bermain di sekitar lingkungan rumah, tetapi tetap dalam pengawasan orangtua.

Jadi, jika bertemu dengan teman sebayanya, anak-anak tetap bisa saling menyapa tetapi tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak.

“Jadi kalau dia di teras ada anak lain yang lewat bisa memperkenalkan. Tidak berdekatan, tidak bersentuhan, hanya diperkenalkan itu ada anak lain. Usianya sama, Dadah-dadah dari jauh. ,” kata Asniar.

Bagi Asniar ketika anak bermain dengan teman sebayanya insting dan perkembangannya juga akan berkembang

Selain bermain di luar rumah, kebutuhan anak untuk bersekolah juga kini terganggu akibat pandemi Covid-19

Bagi Asniar, orangtua harus terus mendampingi putra-putrinya selama sekolah daring berlangsung.

“Kalau anak SD bisa mengikuti walau harus didampingi. Ibunya harus belajar lagi. Itu yang cukup sulit buat orangtua di rumah,” katanya.

Jeki (37), suami Asniar, melihat tumbuh kembang anak sebenarnya akan lebih bisa berkembang saat dia bersekolah.

“Proses sekolah secara langsung lebih mumpuni dalam mengembangkan pola perilaku dan tumbuh kembang anak karena di sekolah anak-anak bisa belajar dan bermain dengan teman sebayanya dan juga pastinya diawasi oleh guru yang dalam proses pembelajarannya,” kata Jeki.

Ia juga sangat menyayangkan akibat pendemi Covid-19 belum berakhir, dia sebagai seorang ayah melihat adanya hambatan dalam tumbuh kembang anak.

“Karena adanya pandemi ini kami sebagai orang tua melihat ada tantangan lebih saat mengawasi dan memantau tumbuh kembang anak,” katanya

Tetapi, hampir seluruh sekolah yang ada di Provinsi Bengkulu sekarang ini melaksanakan pembelajaran tatap muka dimulai sejak bulan September lalu dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat dan proses pembelajaran hanya di ikuti 50 persen dari total siswa secara bergantian.(AL)

Continue Reading

Populer